PERTEMUAN JEJARING INTELIJEN PANGAN “Resistensi Antimikroba dari Perspektif Keamanan Pangan”

01-04-2016 Dit Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Dilihat 1966 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Salah satu upaya untuk menghambat atau mencegah penurunan mutu dan keamanan pangan sebagai konsekuensi rantai produksi dan distribusi pangan yang lebih panjang adalah penggunaan antimikroba, yang dikenal umum sebagai antibiotik, untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroba. Antimikroba telah digunakan selama 70 tahun untuk mengobati penyakit infeksi. Namun, penggunaan antimikroba secara luas dalam kurun waktu yang sangat lama mengakibatkan mikroba target mampu beradaptasi dengan keberadaan antimikroba tersebut dan menjadi resisten terhadapnya sehingga menyebabkan penggunaan antimikroba kurang efektif lagi. Resistensi antimikroba menjadi permasalahan yang kompleks dan mendapat perhatian global karena tidak hanya berdampak terhadap kesehatan hewan tetapi juga kesehatan manusia. Penggunaan antimikroba yang tidak terkontrol juga disinyalir berpotensi menjadi masalah keamanan pangan. Kontaminasi mikroba pathogen atau gen mikroba yang resisten di dalam rantai pangan, khususnya pangan asal hewan, memungkinkan mikroba tersebut ditemukan dalam produk pangan akhir jika tidak dilakukan pengendalian pada tahap budidaya/produksi dengan baik.

 

Jejaring Intelijen Pangan (JIP) merupakan forum komunikasi antara pengkaji risiko keamanan pangan dalam Jejaring Keamanan Pangan Nasional (JKPN). Pertemuan lintas sektor JIP diselenggarakan forum bertukar informasi mengenai permasalahan keamanan pangan yang menjadi perhatian untuk selanjutnya merumuskan rekomendasi bagi manajemen risiko. Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Badan POM selaku Sekretariat JIP berperan sebagai fasilitator dalam penyelenggaraan pertemuan JIP dengan melibatkan partisipasi aktif pemangku kepentingan dari berbagai sektor.

 

Pada tanggal 18 Maret 2016 telah diselenggarakan Lokakarta JIP di Jakarta yang bertujuan untuk 1) Mengetahui kondisi permasalahan resistensi antimikroba dari sudut pandang keamanan pangan dan kesehatan, dan 2) Forum komunikasi dan koordinasi lintas sektor dalam kajian dan penanggulangan masalah resistensi antimikroba di sepanjang rantai pangan. Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran permasalahan resistensi antimikroba di Indonesia terutama dilihat dari segi keamanan pangan. Selain itu, sharing informasi tentang penelitian yang telah dilakukan oleh Perguruan Tinggi terkait resistensi antimikroba dan program yang telah dan akan dilakukan oleh Kementerian/Lembaga terkait.

 

Lokakarya ini dihadiri oleh 60 orang dari perwakilan Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, perguruan tinggi (Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia dan Universitas Atma Jaya), organisasi profesi, lintas unit di Badan POM dan juga dihadiri oleh delegasi study visit otoritas keamanan pangan Bangladesh sebagai observer yang didampingi oleh Prof. Alan Rilley dari FAO. Narasumber dalam pertemuan ini adalah: Prof. Drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc, Ph.D (Koordinator Indonesia One Health University Network), Dr. Diana Waturangi (Dekan Bioteknologi, Universitas Atma Jaya) dan Dr. Anis Karuniawati (Departemen Medik Mikrobiologi Klinik, Universitas Indonesia).

 

Lokakarya dibuka oleh Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya selaku Ketua Pelaksana Jejaring Keamanan Pangan Nasional (JKPN). Selanjutnya Drs. Halim Nababan, MM selaku Ketua JIP membawakan materi berjudul “Flashback of Food Intelligence Network”. Agenda selanjutnya adalah pemaparan materi dan diskusi yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Winiati Pudji Rahayu (Ketua SEAFAST Center, IPB). Dr. Diana Waturangi menyampaikan materi berjudul “Antimicrobial Resistance from Food Safety Perspective”, Prof. Drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc, Ph.D menyampaikan materi berjudul “Addressing Antimicrobial Resistance through One Health Approach” dan Dr. Anis Karuniawati menyampaikan materi berjudul “Permasalahan Resistensi Antimikroba Ditinjau dari Perspektif Klinis”.

 

Diskusi pada pertemuan ini sangat komunikatif dan semua peserta secara aktif memberikan informasi dan masukan terkait topik pada pertemuan ini. Akhir dari pertemuan ini adalah dibuat kesimpulan sebagai berikut: 1) Pertemuan dengan topik Antimicrobial Resistance perlu dibawa ke tingkat risk manager atau kepada pimpinan yang menjadi anggota Jejaring Keamanan Pangan Nasional (JKPN), 2) FAO dan INDOHUN menyediakan dana penelitian dan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan resistensi antimikroba ini, 3) Perlu dikembangkan strategi komunikasi baru untuk menyebarkan informasi tentang penggunaan antibiotik yang sejalan dengan peraturan.

 

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana